IBUKU, GURU PERTAMAKU

“Ibuku guru pertamaku”. Barangkali inilah suara hati seorang kanak-kanak di masa kegemilangan peadaban Islam. Anak-anak yang kelak menjadi para ulama mujtahid sekaliber Imam Syafi’I atau para pemimpin Negara seagung Khalofah Umar bin Abdul Azis. Ibu bagi mereka adalah guru pertamanya. Ibu syafi’I kecil dan ibu umar kecil telah berhasil menanamkan karakter seorang muslim yang kuat pada diri anak-anaknya.

Dan memang idealnya, para ibu menjalankan pembelajaran di rumah (homeschooling) mereka pada anak-anak sejak usia dini. Bukan sekedar belajar, namun juga membentuk kebiasaan-kebiasaan baik pada anak, juga menanamkan aqidah Islam yang kuat pada diri anak.

Sejak awal, sang ibu telah menyiapkan benih yang dikandungnya adalah benih terbaik yang akan tumbuh dalam tempat persemaian yang baik di rahimnya. Mulai dari memilih calon ayah yang memiliki kepribadian Islam yang kuat bagi anak-anaknya. Kemudian bersama sang ayah berdoa agar pertemuan sel telur dan sperma mereka menghasilkan benih terbeik yang terlindung dari godaan syaitan. Selanjutnya ibu merawat janin tumbuh dari rahimnya dengan nutrisi halal dan bergizi serta senantiasa memanjatkan doa agar Allah SWT meridhoi dirinya dan anak yang akan dilahirkannya. Perilaku pun dijaga di masa-masa kehamilan, agar tak stu pun perilaku yang dilakukannya termasuk perilaku tercela. Dia berusaha melakukan kewajiban-kewajibannya, bahkan menambahnya dengan amalan-amalan sunnah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Akhlaqnya pun terjaga untuk member keteladanan dengan sabar dan tidak mengekuh menghadapi kesulitan-kesulitan di masa kehamilannya.

Dan ketika tiba saat melahirkan, proses pendidikan dalam kehidupan yang sesungguhnya dimulai. Seiring dengan terbukanya telinga dan mata sang bayi, maka mulailah informasi-informasi masuk dan mengisi file-file dalam “CPU” otak bayi.

Penanaman kecintaan kepada Allah SWT, Nabi Muhammad Saw dan Al- Quran adalah tahap pertama proses pendidikan anak usia dini. Kasih sayang menjadi porsi terbesar yang diperlukan anak uisa dini agar mereka tumbuh dan berkembang secara optimal. Penanaman rasa cinta pada hal-hal yang baik, akan memudahkan mereka untuk terbiasa melakukan aktivitas-aktivitas kebaikan dan menjauhi perilaku buruk. Itulah sebabnya, orang tua, khususnya ibu, harus menjadi teladan kebaikan-kebaikan bagi anaknya.

Pada anak usia dini, bahasa ibu adalah bahasa anak. Jika Ibunya berbahsa santun, maka anaknya pun santun. Ibunya berbahsa dan berprilkau kasar, tak heran bila anakpun ikut kasar. Bagaimanapun ibu adalah obyek terpenting dalam keseharian kehidupan anak. Karena itulah, program homeschooling adalah proses belajar anal pada masa tumbuh kembangnya. Ibu perlu merancang metode belajar anak. Ibu perlu mengetahui bagaimana menstimulir kemampuan mendengar, melihat, dan berbicara, juga kemampuan fisiknya, baik tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhnya.

Karakter keislaman yang kuat harus pula ditanamkan sejak dini. Siapa yang harus ia cintai? Siapa yang layak diteladani dalam kehidupan ini? Siapa yang harus ia hormati, kasih dan sayang? Anak tidak bisa dibiarkan memilih sendiri. Ibu harus menanamkan nilai-nilai ini kepada anaknya.

Beberapa ciri keberhasilan pembentukan karakter seorang muslim pada diri anak, antara lain:
1. Suka membaca, baik Al-Quran atau pengetahuan Islam secara umum.
2. Suka belajar dan tidak menghabiskan waktunya dengan hanya bermain-main saja.
3. Paling bertakwa kepada Allah Swt.
4. Banyak beribadah dan beramal sholeh, seprti bersedekah, menolong orang lain dll.
5. Berakhlak mulia dan mencari hiburan yang halal.
6. Senang menyambung tali silahturahmi.
7. Dan ketika usia baligh, paling banyak melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Pemebntukan karakter ini akan lebih cepat bila rumah menjadi tempat pendidikan yang nyaman dan menyenangkan bagi anak dengan ibu sebagai guru yang pertama. Ya, ibuku guru pertamaku.


About this entry